Guru dalam Perubahan Kurikulum

Guru dalam Perubahan Kurikulum

Betapa pun baiknya kurikulum, betapa lengkapnya prasarana dan sarana pendidikan, semuanya tidak akan berarti bila guru belum siap menggunakannya. Ibarat prajurit yang berada di garis depan, gurulah yang paling akhir menentukan apakah pendidikan akan berhasil atau tidak.

Perubahan kurikulum adalah sesuatu yang wajar, karena ilmu dan teknologi selalu mengalami perkembangan. Kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik selalu muncul, karena itu kurikulum pun harus selalu terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan perubahan tersebut.

Bila perubahan kurikulum dipersoalkan, maka persoalan pokoknya buka soal baru sekian tahun berlaku kurikulum sudah dirubah atau sudah sekian tahun berlaku kurikulum belum berubah, melainkan apakah perubahan itu bermanfaat serta apakah kondisi lingkungan sudah siap atau paling tidak segera dapat disiapkan untuk menerima perubahan itu

Dalam kaitannya dengan guru sebagai kunci keberhasilan pendidikan, persoalan pokoknya adalah bagaimana agar para para guru dapat menerima perubahan tersebut, bagaimana agar para guru dapat melaksanakan perubahan tersebut, serta fasilitas apa saja yang perlu diadakan agar perubahan tersebut dapat dilaksanakan

Barangkali tugas yang paling sulit bila kurikulum dirubah ialah membuat para guru mau menerima perubahan itu. Para guru yang sudah terbiasa dan telah merasakan manfaat dari apa yang selama ini dijalankannya biasanya tidak dengan begitu saja mau menerima dan melaksanakan suatu perubahan.

Karena alasan-alasan tersebut di atas, maka kunci dari bagaimana membuat para guru agar mau menerima dan melaksanakan perubahan tersebut adalah para penyalur ide-ide perubahan itu. Para petugas penyalur ide-ide perubahan harus paham benar-benar akan latar belakang dari perubahan yang terjadi dan bagaimana pelaksanaannya, agar tidak terjadi bahwa pertanyaan-pertanyaan yang datang dari pihak guru hanya dijawab dengan, “Ini adalah instruksi”.

Para guru pun sudah tahu bahwa perubahan tersebut secara formal memang merupakan instruksi, tetapi sebagai makhluk berakal mereka pun ingin tahu apa latar belakang dari instruksi tersebut. Bagaimana mungkin para guru dapat melakukan sesuatu dengan baik sementara mereka tidak tahu persis apa yang akan mereka lakukan

Keluhan yang sering muncul dari para guru sehubungan dengan perubahan-perubahan pendidikan, adalah bahwa para penatar dan para supervisor (pengawas) yang biasanya berhubungan langsung dengan para guru seringkali tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan tentang perubahan-perubahan tersebut.

Kedatangan para supervisor ke sekolah lebih sering untuk keperluan administratif, misalnya menyampaikan pesan dari atas, mendrop soal THB, atau mencek secara kuantitatif pelaksanaan ide-ide pembaharuan, sedangkan tukar pikiran dengan para guru tentang soal kegiatan belajar mengajar nyaris tidak pernah dilakukan.

Alasannya yang biasanya dikemukakan oleh para supervisor adalah bahwa mereka sangat disibukkan oleh aspek administratif dari tugasnya sebagai supervisor sehingga tak ada waktu yang tersisa untuk menggarap aspek edukatif. Bila alasan itu benar, maka rupanya ada asumsi bahwa aspek administratif dari kegiatan supervisi perlu didahulukan daripada aspek edukatif.

Dan bila demikian asumsinya, maka asumsi itu perlu ditinjau kembali karena aspek edukatif pun termasuk penting, kalau tidak hendak dikatakan lebih penting dan perlu didahulukan. Bukankah administrasi adalah merupakan pelengkap dari kegiatan pendidikan itu sendiri? Atau barangkali diperlukan dia macam supervisor di sekolah, satunya supervisor administratif, satunya lagi supervisor edukatif

Patut disayangkan tentang supervisi yang timpang tersebut adalah bahwa perubahan dalam bidang pendidikan menjadi terhambat pelaksanaanya karena komunikasi yang tidak lancar. Sayang sekali bila para guru menjadi apatis terhadap pembaharuan pendidikan karena mereka tidak pernah memahami sepenuhnya ide-ide pembaharuan pendidikan tersebut sementara pembaharuan itu terus saja berlangsung

Umumnya telah disepakati bahwa komponen-komponen utama dalam kurikulum adalah tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Karena pendekatan yang dianut dalam menyusun kurikulum yang dipakai sekarang ini adalah pendekatan baru yang berorientasi pada tujuan, maka bila kita mau konsekuen dengan pendekatan tersebut, dalam merubah kurikulum, pertama-tama yang perlu diubah adalah komponen tujuan. Atau kalau diadakan perubahan pada komponen materi, metode, dan evaluasi tanpa merubah komponen tujuan, perubahan itu hendaknya dalam rangka meningkatkan relevansi materi, metode, dam evaluasi dengan tujuan.

Selanjutnya karena komponen pokok dalam kurikulum adalah tujuan, metode, dan evaluasi maka pembinaan terhadap kemampuan edukatif para guru adalah pembinaan terhadap kemampuan merumuskan tujuan, memilih materi yang sesuai dengan tujuan, memilih dan menggunakan metode yang tepat, serta mengadakan evaluasi.

Sebenarnya bila pembinaan terhadap kemampuan edukatif para guru dilakukan secara mendasar, para guru akan selalu dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan kurikulum dengan mudah. Karena, bagaimana pun perubahan itu, perubahan tersebut hanya berkisar pada perubahan tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Apalagi bila kurikulumnya seperti kurikulum-kurikulum yang berlaku sekarang ini di mana telah dibuat Garis-Garis Besar Program Pengajaran, sebenarnya sudah cukup memudahkan bagi guru

Pembinaan yang mendasar hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang profesional, yang tidak hanya mampu secara administratif, tetapi juga mampu secara edukatif dalam membina para guru. Agar para guru dapat tetap siap menyesuaikan diri secara lebih mandiri terhadap perubahan-perubahan kurikulum, kepada mereka perlu diberikan pancing dan bukan ikan. Kepada mereka perlu pula diterapkan cara belajar siswa aktif, atau tepatnya cara belajar guru aktif.

Oleh berbagai pihak lancarnya pelaksanaan pembaharuan kurikulum dikaitkan pula dengan masalah kesejahteraan guru. Dari segi jumlah gaji, jelas tak ada perbedaan antara guru dengan pegawai negeri pada umumnya. Yang berbeda adalah bahwa gaji guru sering kali terlambat dibayar, terutama guru- guru di daerah-daerah pedesaan. Juga tidak jarang urusan-urusan kenaikan pangkat tidak selancar yang semestinya. Karena itu berbicara soal kesejahteraan guru sebenarnya bukan soal cukup tidaknya kebutuhan guru.

Kalau soal cukup tidaknya kebutuhan guru, adalah lebih tepatnya dibicarakan dalam konteks yang lebih luas yang menyangkut kebutuhan pegawai negeri pada umumnya. Yang jelas bila diinginkan agar para guru dapat bekerja dengan baik, maka kelancaran urusan yang menyangkut kesejahteraan hidupnya pun perlu diperhatikan.

Penjelasan yang tuntas bagi para guru tentang latar belakang perubahan kurikulum, pembinaan yang mendasar terhadap kemampuan edukatif para guru, dan lancarnya urusan yang menyangkut kesejahteraan guru tidak dengan sendirinya akan menyebabkan lancarnya pelaksanaan suatu kurikulum baru. Namun, paling tidak hal-hal tersebut akan dapat menghindarkan berakarnya sikap apatis terhadap perubahan-perubahan kurikulum. Bukankah keterbukaan terhadap perubahan kurikulum adalah suatu awal yang baik bagi suksesnya pelaksanaan kurikulum itu sendiri?

 

Guru dalam Perubahan Kurikulum

Anda telah membaca artikel berjudul: "Guru dalam Perubahan Kurikulum" yang telah dipublikasikan oleh: Statis Blog. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan.

You May Also Like

About the Author: Admin statis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *