Belajar Dari Rumah dan Belajar di Rumah

"BELAJAR DARI RUMAH" DAN "BELAJAR DI RUMAH"

hardiknas 2020

Yang utama adalah menjaga kesehatan demi keselamatan, lalu menjaga keamanan sebagai efek dari situasinya. Kedua, mengikuti cara mikir bahwa prinsip belajar tuntas itu harus ditafsirkan benar-benar tuntas, ya sudah, kita taat anjuran "belajar dari rumah".

Tapi momentum realnya sebagai uang tunainya, kayaknya, adalah "belajar di rumah". Situasinya sedang kuat-kuatnya semua harus di rumah. Ayah, ibu, kakak, adik, kakek, dan nenek, semua harus di rumah.

Mama tidak perlu mbatin papa agar agak betah di rumah sekarang real papa di rumah. Papa tidak perlu nyindir mama yang tiap hari arisan, arisan dan arisan, sekarang mama real di rumah. Boy dan Tika, yang kemarin kebal cara untuk bisa menahan sebentar saja duduk dan mau nyenggol masakan di rumah, kini nyata, mereka nyaris tak ke mana'mana.

Warung kopi tutup. Mudik disuruh balik. Lokasi wisata tak melayani. Ngurus SIM ikut prei. Seminar-seminar pindah di laptop. Embong-embong kampung tinggal satu pintu. Hayo, mau kemana.

Jadi, sekali lagi, uang tunai kita kayaknya kok "belajar di rumah".

Kita tempuh pelajaran interaksi dan komunikasi antar anggota keluarga. Kita tempuh cross personal understanding dan tolerasi dan kerjasama antar anggota keluarga. Kita tempuh kerukunan dan berbagi dan kebersamaan antar anggota keluarga. Kita tempuh pertalian keluarga, penikmatan dan kegembiraan persaudaraan, partisipasi dan empati hidup di rumah, dan sebagainya.

Materi untuk belajar tersebut apa saja yang seharusnya hidup di rumah : Berkebun bersama, masak bersama, membersihkan bersama, nyanyi bersama, nglukis bersama, ibadah bersama, nonton tv bersama, belajar bersama, petik kebun bersama dsb.

Anak-anak bisa mengenal lagi cara tanam umbi-umbian dan belajar makan umbi-umbian. Perut mereka bisa dilatih menghadapi situasi apa saja.Tidak harus roti dan mie instan. Orang tua yang selama ini tak sempat praktik jadi orang tua bisa mengisi waktu belajar jadi orang tua.

Belajar ini tak harus beli paketan. Tak perlu ribut sinyal dan tipe handphonenya. Sinyalnya bisa dalam kondisi apa saja. Ini benar-benar belajar untuk semua. Selama ini, belajar ini lepas dari genggaman. Mereka saling mengemukakan alasan. Anak bilang, orang tuanya sibuk tak pernah di rumah. Orang tua bilang waktu anak banyak disita sekolah dan kursusan.

Idealnya, terhitung mulai sekarang, satu bulan penuh bersama ramadhan atau dua bulan penuh bersama corona cukuplah diklat "belajar di rumah" itu. Jadi, sementara, hal -hal di luar, termasuk pelajaran di sekolah, dievaluasi berdasarkan yang telah dicapai.

Bila melampaui dua bulan dan ternyata tetap harus di rumah karena wabah virus corona belum mereda, kita menambah "belajar dari rumah".

Ingat, setiap orang tua adalah guru.

SELAMAT HARDIKNAS 2020


Author: Kang Anri

Cuma blogger amatir yang ingin share pengetahuan dan informasi.